Nama : muchamad aminudin
Kelas : 3ea18
Npm :19210748
salah satu kesan saya
usai membaca novel “Cinta Suci Zahrana” karya Habiburrhman El-Shirazi (Kang
Abik), betapa dilemanya seorang gadis berprestasi saat dihadapkan pada pilihan
mengejar cita-cita, karir atau berumah tangga. Diakui, lingkungan sosiologis kita
masih berpandangan, bahwa priosritas seorang perempuan menjadi ibu dari
anak-anak di samping isteri dari seorang suami. Setinggi apapun prestasi yang
diraih, rasanya belum afdol bila kehidupan pribadi termasuk cintanya tidak
sukses.
Kang Abik menampilkan
tokoh Siti Zahrana sebagai sosok gadis ambisius dan memiliki talenta luar biasa
dalam bidang akademik. Ia terlahir dari keluarga biasa-biasa, ayah seorang PNS
golongan rendah di kelurahan. Zahrana berhasil menyelesaikan S1 di Fakultas
Teknik UGM Jogjakarta dan S2 di ITB.
Nama Zahrana mendunia
karena karya tulisnya dimuat di jurnal ilmiah RMIT Melbourne. Dari karya tulis
itu, Zahrana meraih penghargaan dari Thinghua University, sebuah universitas
ternama di China. Ia pun terbang ke negeri Tirai Bambu untuk menyampaikan orasi
ilmiah. Di hadapan puluhan profesor arsitek kelas dunia, ia memaparkan
arsitektur bertema budaya. Yang ia tawarkan arsitektur model kerajaan
Jawa-Islam dahulu kala. Dari Thinghua University, Zahrana mendapat tawaran beasiswa
untuk studi S3 di samping mendapat tawaran pengerjaan sebuah proyek besar.
Namun Zahrana tidak hidup
sendiri. Di tengah kesuksesan prestasi akademiknya, ia malah menjadi bahan
kecemasan kedua orang tuanya. Kecemasan itu lantaran Zahrana belum juga menikah
di usianya yang memasuki kepala tiga. Sudah banyak laki-laki yang meminangnya,
namun Zahrana menolaknya dengan halus.
Di sinilah konflik batin
Zahrana mulai timbul, antara menuruti keinginan orang tua atau mengejar
cita-cita. Sebenarnya Zahrana sudah mengalah. Ia tak menerima tawaran jadi
dosen di UGM. Alasannya karena orang tuanya yang tinggal di Semarang tidak mau
jauh. Zahranapun memilih mengajar di sebuah universitas di Semarang. Ia tetap
bisa tinggal bersama orang tuanya. Zahrana juga mengalah pada orang tuanya
hingga ia tidak mengambil tawaran beasiswa S3 di negeri China.
Meski tak otoriter, kedua
orang tua Zahrana berharap anak satu-satunya itu segera menikah dan memiliki
keturunan. Sebagai orang tua yang sudah renta, khawatir semasa hidupnya tidak
sempat menyaksikan Zahrana bersuami dan menimbang cucu. Apalagi bila melihat
anak-anak tetangga seusia Zahrana, mereka sudah memiliki anak dua bahkan tiga.
Sebenarnya dalam jiwa
perempuan Zahrana, bukan tidak menghiraukan keinginan berumah tangga. Tetapi
logika analitisnya selalu berargumen, menikah hanya menunda-nunda sukses bahkan
bisa menghalanginya.
Puncak konflik batin
Zahrana ketika dilamar oleh seorang duda yang notabene atasannya sendiri. Ia
dilamar dekannya, begitu kembali dari Thinghua University sehabis menerima
penghargaan. Dengan tegas, Zahrana tidak menerima lamaran atasannya itu meski
orang tuanya kecewa. Alasan Zahrana semata-mata persoalan moral atasannya yang
terkenal suka meminta setoran kepada mahasiswa bila ingin nilai bagus bahkan
suka bermain cinta dengan mahasiswanya sendiri. Di samping alasan moral,
Zahrana tak mungkin menerima lamaran atasanya yang berusia kepala lima.
Akibat menolak lamaran
itu, Zahrana akan dipecat secara tidak hormat. Tetapi Zahrana mendahuli
mengajukan pengunduran diri. Ia benar-benar hengkang dari kampus itu dan
memilih mengajar di sebuah sekolah kejuruan teknik.
Pasca lamaran, Zahrana
sadar, ia harus cepat-cepat bersuami. Hati Zahrana berargumen lain, bisa saja
dirinya melanjutkan cita-cita di dunia kademik meski sudah bersuami. Ia pun
minta saran kepada pimpinan pondok pesantren yang masih saudara jauh teman
akrabnya. Oleh pimpinan pondok pesantren Zahrana dipertemukan seorang pemuda
yang dari sisi pekerjaan kurang prestisius. Pemuda itu pedagang kerupuk keliling
dan Zahrana merasa cocok. Ia bertekad mengabdikan hidupnya kepada Allah melalui
ibadah dalam rumah tangga.
Kedua belah kelurga
menyiapkan pesta pernikahan sederhana. Zahrana menyiapkan gaun pengantin.
Bahagia sekali hati Zahrana. Ia meyakinkan diri tak lama lagi akan bersuami
yang salih. Ia membayangkan esok hari, kisah penantian ini akan segera
berganti.
Namun bayangan itu sirna
seketika saat menerima kabar calon suaminya meninggal, tertabrak Kereta Api
yang tak jauh dari perkampungan. Saat itu pula Zahrana merasa sudah mati.
Bayangan indah kini berganti dengan kabut tebal yang dipenuhi hantu kematian
yang siap mencabik-cabik dirinya. Bunga-bunga cinta di hatinya, kini berganti
dengan bunga kematian. Langitpun runtuh dan serasa menindihnya. Zahrana pingsan
beberap kali hingga dilarikan ke rumah sakit. Beruntung Zahrana masih kuat
melanjutkan hidup.
Beberapa hari
pascatragedi, ia hanya di rumah sambil menekuri diri. Sahabat-sahabat dan
kerabatnya banyak yang berdatangan untuk sekedar mengucapkan duka cita termasuk
teman-teman dan atasanya di kampus dulu mengajar.
Salah seorang penjenguk,
dokter perempuan yang sempat mengobatinya di rumah sakit. Perempuan itu
ternyata ibunya mahasiswa bernama Hasan yang sekripsinya sempat dia bimbiang.
Rupanya kedatangan ibu dokter ini sekaligus mengobati luka cinta Zahrana.
Ibu dokter ternyata
mengabarkan, anaknya, Hasan, berniat menikahinya. Betapa kaget dan bahagianya
Zahrana. Seolah tak peracaya dengan nasibnya yang begitu bergelombang. Meski
ragu menerima lamaran itu, Zahrana menyampaikan satu syarat. Bila anak ibu
dokter benar meminangnya, ia minta agar pernikahannya nanti malam setelah
shalat tarawih. Ia sangat trauma dengan tragedi yang menimpa satu malam
menjelang pernikahannya dulu. Setelah dialog cukup panjang, tawaran itu
diterima ibu dokter. Tepat jam tujuh malam, mereka melangsungkan pernikahan
suci di masjid yang disaksikan para jamaah shalat tarawih. Malam pertama bulan
Ramadhan yang indah menandakan berakhirnya penderitaan Zahrana. Ia
menyempurnakan hidupnya dengan mencurahkan cinta sucinya.
Kisah Cinta Zahrana,
nampaknya penyempurnaan dari novel Habiburrhman sebelumnya. Kisah yang sama
pernah dimuat dalam kumpulan novel ”Dalam Mihrab Cinta”. Tetapi dalam novel
Cinta Suci Zahrana yang bukunya diterbitkan Ihwah Publishing House setebal 248
halaman ini, kisahnya lebih panjang lebar.
Sementara bila dilihat
dari analisis gender, kisah ini masih memposisikan perempuan dalam kondisi
sangat dilematis. Meski perempuan berprestasi cemerlang, ia masih dituntut oleh
lingkungan sosial untuk patuh pada tradisi yang telah mengakar kuat. Hingga
terkesan –para perempuan yang diingkarnasikan pada sosok Zahrana– masih cacat
hidupnya bila urusan privasi –salah satunya berkeluarga– belum tercapai.
Namun nampaknya
Habiburrhman sangat mafhum dengan kondisi masyarakat kita. Pada akhir novel ini
terjadi kisah yang sangat akomodatif. Setelah menikah, Siti Zahrana masih akan
melanjutkan studi S3 di perguruan tinggi ternama di China, sementara suaminya
meneruskan studi S2 di Malaysia. Sepertinya Habiburrhman ingin menyampakan
pesan, bila perencanaan hidup ini matang, semestinya tidak ada halangan bagi
seorang perempuan sekalipun untuk mengejar prestasi setinggi-tingginya, tanpa
mengenyampingkan asfek privasi. (*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar